Rabu, 30 September 2015

SUKA DUKA HTS




CINTA…??? Ah rasanya aku ingin tidur, tak semudah itu orang menerjemahkan.  Cinta memang dianggap hal yang paling rumit dalam menjalin hubungan yang bisa normal. Namun, cinta memiliki tantangan yang cukup extreme untuk melukis cerita yang indah. Cinta bukan aku, cinta bukan kamu, cinta bukan apa atau siapa, tapi cinta adalah tentang semuanya. Cinta itu,,,, ah sudahlah! Aku tak banyak mengerti tentang cinta, yang terpenting cinta menjadi menjadi sekat tipis yang memisahkan tawa dan tangis.
Singkat cerita, awalnya aku cuekin dia tapi lama-kelamaan aku terlarut dalam skenarionya. Sebut saja dia Gilang, cowok umur 18 tahun dan masih sekolah di jenjang SMK. Sedangkan aku, baru lulus tahun ini. Memang dia lebih tua setahun denganku, tapi jangan salah soal kedewasaan dia lebih mampu berfikir secara kritis dibanding denganku. Gilang tinggal tak jauh dari rumahku, tapi sebelumnya aku tak pernah bertemu sesosok lelaki yang berhidung mancung, berkumis tipis dengan postur tubuh tinggi yang ramping minimalis itu. Orangnya baik, perhatian dan konyol, hingga terkadang aku larut menikmati kekonyolan itu. Berhari-hari aku komunikasi dengannya hingga larut malam, bahkan subuh pun pernah. Hingga kita memiliki kedekatan yang spesifik. Sampai pesan yang belum sempat kubalas, dia pasti sms lagi memenuhi kotak inbokku. Jujur sih, aku sedikit bahagia kalau hpku berisi pesan darinya, tapi bosen juga kalu disuruh olahraga jari terus-terusan.
Konon, kata orang terdahulu “Tresno jalaran soko kulino” yang maksudnya perasaan akan muncul dengan seiring berjalannya waktu jika kita selalu bersama dan terbiasa bersama. Pernyataan yang benar juga, memang rasa nyaman datang setelah kita sering bersama dan berkomunikasai layaknya pasangan muda. Padahal kita hanya berteman biasa dan hanya saja saling mengasih kabar satu sama lain. Seperti halnya aku dan Gilang yang kini menjadi teman dekat dan belakangan ini sering bersama. Dulu Gilang pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku sebelum kita sedekat nadi ini. Hanya saja aku gak pernah peka kalau dia sebenarnya menyimpan perasaan padaku. Dan tak pernah sedikitpun terbesit dalam benakku kalau sebenarnya Gilang menyukaiku. Dan sejauh ini aku masih belum menaruh rasa kepada Gilang. Aku hanya nyaman berteman dengannya dan menganggap ungkapan Gilang hanya bercanda. Hingga akhirnya dia mulai mengahapus rasa itu dan beranggapan bahwa kita memang ditakdirkan menjadi sepasang teman bukan pasangan mesra.
Semakin lama aku  semakin dekat dengan Gilang. Hidupku terasa membawa keceriaan, selalu tersenyum seperti tak ada masalah. Karena kita mencoba saling terbuka dan berbagi kisah kehidupan masing-masing. So, saat kita mempunyai masalah selalu kita coba diselesaikan berdua dan saling memberi semangat antara kita. Aku sangat bahagia saat dia berada disisiku. Tapi waktu mengalihkan kita. Keadaan berubah menjadi kelabu seketika. Kita lostcontact untuk beberapa minggu kedepan. Aku sedikit layu dan kurang bersemangat belakangan ini karena kurasa sebagian dari semangatku ada yang hilang. Sejujurnya aku rindu canda tawa kita, aku rindu kekonyolan kita dan aku rindu semua tentang kita yang dulu-dulu. Sekarang suasananya udah beda yang sesering dulu bersama. Hal paling kutakutkan adalah Gilang pergi ataupun berubah tanpa alasan disaat aku sudah nyaman dengannya. Kali ini aku berusaha membangunkan semangatku lagi sendiri dan berjuang sendiri itu lebih menyakitkan. Kuukir senyum tipis lagi dan aku yakin yang namanya sahabat itu gak akan pernah ninggalin sahabatnya tanpa alasan yang tepat. Karena berjuang itu gak sebercanda ini kawan !!!
Hingga saat aku mulai berhasil mengukir senyuman lagi dan membangkitkan semangat lagi walaupun tak lengkap seperti dulu saat kita masih bersama. Akirnya Gilang kembali lagi menghubungiku dengan suatu alasan yang logis. Kita mulai bersahabat lagi, tapi kini aku sedikit canggung  dan belum care seperti dulu. Dengan seiring berjalannya waktu, persahabatan kita pun menjadi lebih dekat. Bahkan aku dan Gilang mempunyai nama panggilan kesayangan masing-masing layaknya pasangan mesra. Sampai orang lain dan teman-temanku menganggap kita pacaran, padahal kita cuma sahabat bukan pasangan mesra. Kita sih lebih nyaman dengan status seperti ini. Awalnya sih biasa-biasa aja tapi lama-kelamaan jadi baper. Karena sebuah kenyamanan dapat membuat orang lupa kalau kita cuma sebatas sahabat. Dan sekarang aku tak bisa memikirkannya, entahlah aku bingung menerjemahkan isi hati ini. Rasanya aku ingin mengatakan bahwa aku mulai menaruh rasa pada Gilang. Tapi sudahlah, aku mulai melupakan perasaan misterius ini. Yang terpenting kita selalu bersama dan tak sedetikpun lostcontact lagi.
Entah sampai kapan aku harus memendam perasaan ini. Perasaan yang membuatku tak mau berpisah dengan Gilang. Tapi aku bisa apa ? kita kan gak ada status yang lebih dari persahabatan. Tetapi aku selalu berusaha mengubur dalam-dalam perasaan ini. Dia yang selalu berhasil membuat hatiku mencair di tengah kebekuan. Terkadang aku merasa bingung, hubungan persahabatan kita bisa dibilang sudah bukan persahabatan lagi melainkan seperti hubungan tanpa status. Dan entahlah sampai kapan hubungan ini berjalan. Aahhh,,, sudahlah aku gak mau ambil pusing dengan pernyataan horror ini yang mungkin nantinya dapat menggoreskan luka. Yang terpenting sampai hari ini detik ini kita masih bersama dan tentunya bahagia. Hingga suatu malam Gilang mengajakku keluar sebentar sekedar melepas penat. Kita biasa nongki di cafe tempat-tempat nongkrong para jiwa muda. Saat sedang asyiknya nongki, kuamati Gilang yang berbeda dari kemarin-kemarin. Kali ini dia sedikit sibuk dengan poselnya dan agak sedikit cuek dengan keadaan. Aku merasa bosan dengan sikapnya hari ini, aku penasaran dengan sikapnya hari ini, sepertinya ada yang disembunyikan.
Saat dia keluar sebentar, tak sengaja kubuka ponsel Gilang dan disitu terdapat 1 pesan baru dari seorang cewek yang isinya “ Lagi dimana sayang ? Cepet pulang yah”. Aku tercengang dan sedikit tak percaya ternyata Gilang memiliki pacar baru dan tak mau bercerita denganku. Mungkin dia malu atau apalah aku tak paham. Aaaaaarrrrrgggghhh,,,,, rasanya. Kecewa iya. Aku hanya diam dan seolah-olah tak tahu apa-apa dan berpura –pura strong.
“Kamu kenapa ?”, tanya Gilang yang memecahkan kesunyian.
“Aku gakpapa kok”, jawabku singkat dan tak seperti biasa.
“Beneran gakpapa?”, tambah Gilang meyakinkanku.
“Iya aku gakpapa kok”, jawabku sambil menahan kecewa.
“Kamu kok gitu sih Lin, kamu kenapa ?”, timpal Gilang lagi yang tak puas dengan jawabanku.
“Aku gakpapa kok kring, beneran deh gakpapa”, jawabku pura-pura senyum dan seolah-olah tak tahu apa-apa.
“Bilang aja gakpapa terus Lin, sampai aku berubah jadi malaikat Izroil dan mencabut nyawamu!”, bentak Gilang dengan ekspresi konyolnya, tetapi aku tetap saja diam dengan ekspresi datar. Tak lama kemudian akhirnya kita pulang dan Gilang mengantarkanku pulang sampai depan rumah.
Langsung saja aku masuk kamar dan merebahkan tubuhku diatas kasur sambil  menahan banjir dari pelupuk mata yang mengalir membsahi pipi. Tak tahu mengapa aku merasa kecewa seperti ini. Rasanya aku ingin kembali menjadi anak kecil lagi, sebab  jika jatuh hanya lututku yang terluka bukan hatiku seperti ini. Lucu ya, keadaan berubah secepat itu. Mungkin kesalahanku menunggu seseorang yang sedang menunggu orang lain. Dan bukan benci yang membuat kita sekarang sedikit jaga jarak seperti ini, tapi kecewa. Semacam tidak memiliki namun takut kehilangan dan semacam tidak punya status namun merasakan kecemburuan, itulah hubungan tanpa status. Kadang gak ngerti dengan hati ini, udah  dibikin baper, terus menggoreskan luka gitu aja. Tapi tenang aja kok, Allah menulis skenario itu selalu indah kok, jadi kalau belum indah berarti belum selesai…

1 komentar:

Unknown mengatakan...

ceritanya ngena banget duhh, makasih loh ya postingannya :)

Posting Komentar