Awalnya hanya biasa,
mengenalnya saja tidak. Aku baru melihatnya di kelas tahun ajaran baru ini.
Namanya saja aku tak tahu. Dia sangat asing di mataku. Saat itu dirinya tidak
menarik di mataku. Aku melihatnya biasa saja.
Bicara dengannya saja belum
pernah. Aku tak tahu menahu tentangnya. Yang aku ketahui tentangnya hanya satu,
yaitu saat hari pertama masuk ajaran baru. Aku melihatnya sedang menidurkan
kepalanya di atas meja, meja yang berada di baris ketiga dari depan. Tak lupa
juga, tertempel headphone di kepalanya. Nafasnya beraturan, bertanda dia sedang
tertidur. Dia menidurkan kepalanya berlawanan arah denganku. Alhasil, aku tak
bisa melihat ekspresi tenang dia saat tertidur.
Saat itu, aku memutuskan
untuk duduk di seberangnya. Seperti mendengar langkah kakiku, kepalanya menoleh
ke arahku. Dia menatapku dengan ekspresi datar, saat itu bertatap dengannya
biasa saja. Tak ada yang salah tingkah, saat dia menatapku dengan ekspresi
datarnya. Bertemu dengannya di kelas atau di mana pun biasa saja. Tak ada
jantung yang berdegub kencang karenanya. Tak ada apapun yang terjadi, jika
bertemu dengannya. Sudah seminggu, dia duduk di seberang mejaku. Tapi aku belum
pernah berbicara sama sekali dengannya.
Hingga suatu ketika aku mengetahui namanya, namanya David. Bukan David Arculeta, bukan David Beckam, bukan David Villa, bukan David Luiz, dan bukan juga David Silahoi seorang presenter berita di salah satu channel TV. Nama panjangnya David Ariata Senja. Namanya sangat menarik bagiku, karena ada kata ‘Senja’ di belakangnya. Aku menyukai langit sore yang sangat indah, warnanya jingga yaitu senja. Aku tak tau kenapa aku begitu menyukai senja, apa mungkin disebabkan karena aku terlahir pada sore hari. Sama halnya dengan David, dia juga terlahir sore hari.
Hingga suatu ketika aku mengetahui namanya, namanya David. Bukan David Arculeta, bukan David Beckam, bukan David Villa, bukan David Luiz, dan bukan juga David Silahoi seorang presenter berita di salah satu channel TV. Nama panjangnya David Ariata Senja. Namanya sangat menarik bagiku, karena ada kata ‘Senja’ di belakangnya. Aku menyukai langit sore yang sangat indah, warnanya jingga yaitu senja. Aku tak tau kenapa aku begitu menyukai senja, apa mungkin disebabkan karena aku terlahir pada sore hari. Sama halnya dengan David, dia juga terlahir sore hari.
Hampir setiap hari, aku
menyempatkan diri untuk melihat langit sore di taman bintang. Taman yang berada
di tengah kompleks perumahanku. Di taman bintang banyak sekali kenangan, kenangan
yang selalu menjadi mimpi burukku. Seseorang itu yang membuatku selalu
tersenyum. Tapi dia juga yang meninggalkanku tanpa ada pamit. Aku tak tahu
kapan dia kembali. Aku berusaha melupakannya.
David memang cuek, bahkan dia terlihat dingin sedingin bongkahan es. Dia mengeluarkan kata seperlunya saja. Dia terlihat sangat menyeramkan ketika sedang marah dan melakukan keinginannya dengan sesuka hatinya. Dia lebih sering menghabiskan waktu di kelas dengan menempelkan headphone di telinganya. Aku jadi ingin tahu, lagu apa yang dia dengarkan. Aku benci ketika melihat dia dengan keringat yang membasahi dahinya bahkan bajunya dengan wajah merah karena kepanasan. Biasanya dia seperti itu setelah bermain sepak bola di lapangan. Dia termasuk pemain terbaik di sekolahku, tapi aku tak pernah melihatnya sebelum aku sekelas dengannya di tahun ajaran baru ini.
David memang cuek, bahkan dia terlihat dingin sedingin bongkahan es. Dia mengeluarkan kata seperlunya saja. Dia terlihat sangat menyeramkan ketika sedang marah dan melakukan keinginannya dengan sesuka hatinya. Dia lebih sering menghabiskan waktu di kelas dengan menempelkan headphone di telinganya. Aku jadi ingin tahu, lagu apa yang dia dengarkan. Aku benci ketika melihat dia dengan keringat yang membasahi dahinya bahkan bajunya dengan wajah merah karena kepanasan. Biasanya dia seperti itu setelah bermain sepak bola di lapangan. Dia termasuk pemain terbaik di sekolahku, tapi aku tak pernah melihatnya sebelum aku sekelas dengannya di tahun ajaran baru ini.
Di dalam sikap dinginnya, dia
menyimpan kebaikan di dalamnya. Saat itu, aku yang sedang kebingungan mencari
jawaban matematika yang belum kutemui jawabannya. Karen, teman sebangkuku, dia
sedang tertidur pulas. Tidak memedulikan pelajaran matematika, pelajaran yang
sangat dia benci. Aku menoleh ke penjuru kelas, mencari siapa pun yang bisa
mengajariku. Seperti mengetahui kepanikanku, David yang berada di seberangku
menoleh ke arahku. Aku bertanya kepada, apakah dia sudah mendapatkan
jawabannya. Dia mengangkat alisnya, lalu dengan ragu-ragu dia mengangguk.
Ketika itu, aku segera ke mejanya, memohon untuk mengajariku.
Semenjak itu, ketika
pelajaran matematika datang. Aku duduk di sebelah, jadi ketika aku mendapati
soal yang tidak kutemui jawabannya. Aku tinggal menoleh ke arah kiriku dan
mendapati David dengan senang hati mengajariku. Sedangkan teman sebangku David,
yaitu Zona. Dia duduk di sebelah Karen, sama halnya dengan Karen. Zona pasif
dengan pelajaran matematika. Jodoh sekali mereka. Bahkan terkadang, aku
mendapati pipi Karen bersemu merah saat bebicara dengan Zona.
Terkadang, aku dan dia duduk
bersama hingga pulang sekolah tiba. Tak ada yang protes, bahkan aku dan dia
asyik bersenda gurau. Aku baru tahu bahwa dia orang yang mengasyikkan. Dia
kadang menjahiliku. Tapi sifat cueknya masih menyelimutinya. Terkadang David
terlihat tampan, hmm bukan tampan. Tampan terlalu bagus untuknya. Apa ya? Mungkin
keren, iya keren. Tapi dia sedikit tampan, atau aku yang tidak mau mengakui
bahwa dia benar-benar tampan? Dengan rambut cepak yang tidak terlalu panjang.
Dengan rahang dagu yang terlihat tegas. Dengan tinggi yang tidak terlalu jauh
dari tinggiku. Dan, dengan keadaan yang dingin.
Hingga suatu ketika, aku
menyadari bahwa aku menyukai dirinya. Aku jatuh cinta kepadanya.
Aku selalu memperhatikan apa
pun yang dia lakukan ketika di sekolah, ketika dia sedang mendengarkan musik.
Ketika dia sedang memperhatikan guru mengajar, ketika dia menjelaskan bagaimana
cara mengerjakan soal matematika kepadaku, ketika dia tersenyum kepadaku.
Ketika dia bermain bola di lapangan. Aku baru menyadari bahwa ketika melihat
dia dengan keringat yang membasahi dahinya bahkan bajunya dengan wajah merah
karena kepanasan, dia terlihat keren. Mungkin terlalu banyak kata untuk
menjelaska sesosok dia. Aku
menyukai apapun tentangnya, tapi satu yang tidak aku suka darinya. Bahwa dia
mencintai perempuan lain. Dan perempuan itu bukan aku..


0 komentar:
Posting Komentar