Minggu, 04 Oktober 2015

DIA

Awalnya hanya biasa, mengenalnya saja tidak. Aku baru melihatnya di kelas tahun ajaran baru ini. Namanya saja aku tak tahu. Dia sangat asing di mataku. Saat itu dirinya tidak menarik di mataku. Aku melihatnya biasa saja.
Bicara dengannya saja belum pernah. Aku tak tahu menahu tentangnya. Yang aku ketahui tentangnya hanya satu, yaitu saat hari pertama masuk ajaran baru. Aku melihatnya sedang menidurkan kepalanya di atas meja, meja yang berada di baris ketiga dari depan. Tak lupa juga, tertempel headphone di kepalanya. Nafasnya beraturan, bertanda dia sedang tertidur. Dia menidurkan kepalanya berlawanan arah denganku. Alhasil, aku tak bisa melihat ekspresi tenang dia saat tertidur.


Saat itu, aku memutuskan untuk duduk di seberangnya. Seperti mendengar langkah kakiku, kepalanya menoleh ke arahku. Dia menatapku dengan ekspresi datar, saat itu bertatap dengannya biasa saja. Tak ada yang salah tingkah, saat dia menatapku dengan ekspresi datarnya. Bertemu dengannya di kelas atau di mana pun biasa saja. Tak ada jantung yang berdegub kencang karenanya. Tak ada apapun yang terjadi, jika bertemu dengannya. Sudah seminggu, dia duduk di seberang mejaku. Tapi aku belum pernah berbicara sama sekali dengannya.
Hingga suatu ketika aku mengetahui namanya, namanya David. Bukan David Arculeta, bukan David Beckam, bukan David Villa, bukan David Luiz, dan bukan juga David Silahoi seorang presenter berita di salah satu channel TV. Nama panjangnya David Ariata Senja. Namanya sangat menarik bagiku, karena ada kata ‘Senja’ di belakangnya. Aku menyukai langit sore yang sangat indah, warnanya jingga yaitu senja. Aku tak tau kenapa aku begitu menyukai senja, apa mungkin disebabkan karena aku terlahir pada sore hari. Sama halnya dengan David, dia juga terlahir sore hari.

Hampir setiap hari, aku menyempatkan diri untuk melihat langit sore di taman bintang. Taman yang berada di tengah kompleks perumahanku. Di taman bintang banyak sekali kenangan, kenangan yang selalu menjadi mimpi burukku. Seseorang itu yang membuatku selalu tersenyum. Tapi dia juga yang meninggalkanku tanpa ada pamit. Aku tak tahu kapan dia kembali. Aku berusaha melupakannya.
David memang cuek, bahkan dia terlihat dingin sedingin bongkahan es. Dia mengeluarkan kata seperlunya saja. Dia terlihat sangat menyeramkan ketika sedang marah dan melakukan keinginannya dengan sesuka hatinya. Dia lebih sering menghabiskan waktu di kelas dengan menempelkan headphone di telinganya. Aku jadi ingin tahu, lagu apa yang dia dengarkan. Aku benci ketika melihat dia dengan keringat yang membasahi dahinya bahkan bajunya dengan wajah merah karena kepanasan. Biasanya dia seperti itu setelah bermain sepak bola di lapangan. Dia termasuk pemain terbaik di sekolahku, tapi aku tak pernah melihatnya sebelum aku sekelas dengannya di tahun ajaran baru ini.

Di dalam sikap dinginnya, dia menyimpan kebaikan di dalamnya. Saat itu, aku yang sedang kebingungan mencari jawaban matematika yang belum kutemui jawabannya. Karen, teman sebangkuku, dia sedang tertidur pulas. Tidak memedulikan pelajaran matematika, pelajaran yang sangat dia benci. Aku menoleh ke penjuru kelas, mencari siapa pun yang bisa mengajariku. Seperti mengetahui kepanikanku, David yang berada di seberangku menoleh ke arahku. Aku bertanya kepada, apakah dia sudah mendapatkan jawabannya. Dia mengangkat alisnya, lalu dengan ragu-ragu dia mengangguk. Ketika itu, aku segera ke mejanya, memohon untuk mengajariku.

Semenjak itu, ketika pelajaran matematika datang. Aku duduk di sebelah, jadi ketika aku mendapati soal yang tidak kutemui jawabannya. Aku tinggal menoleh ke arah kiriku dan mendapati David dengan senang hati mengajariku. Sedangkan teman sebangku David, yaitu Zona. Dia duduk di sebelah Karen, sama halnya dengan Karen. Zona pasif dengan pelajaran matematika. Jodoh sekali mereka. Bahkan terkadang, aku mendapati pipi Karen bersemu merah saat bebicara dengan Zona.

Terkadang, aku dan dia duduk bersama hingga pulang sekolah tiba. Tak ada yang protes, bahkan aku dan dia asyik bersenda gurau. Aku baru tahu bahwa dia orang yang mengasyikkan. Dia kadang menjahiliku. Tapi sifat cueknya masih menyelimutinya. Terkadang David terlihat tampan, hmm bukan tampan. Tampan terlalu bagus untuknya. Apa ya? Mungkin keren, iya keren. Tapi dia sedikit tampan, atau aku yang tidak mau mengakui bahwa dia benar-benar tampan? Dengan rambut cepak yang tidak terlalu panjang. Dengan rahang dagu yang terlihat tegas. Dengan tinggi yang tidak terlalu jauh dari tinggiku. Dan, dengan keadaan yang dingin.

Hingga suatu ketika, aku menyadari bahwa aku menyukai dirinya. Aku jatuh cinta kepadanya.

Aku selalu memperhatikan apa pun yang dia lakukan ketika di sekolah, ketika dia sedang mendengarkan musik. Ketika dia sedang memperhatikan guru mengajar, ketika dia menjelaskan bagaimana cara mengerjakan soal matematika kepadaku, ketika dia tersenyum kepadaku. Ketika dia bermain bola di lapangan. Aku baru menyadari bahwa ketika melihat dia dengan keringat yang membasahi dahinya bahkan bajunya dengan wajah merah karena kepanasan, dia terlihat keren. Mungkin terlalu banyak kata untuk menjelaska sesosok dia. Aku menyukai apapun tentangnya, tapi satu yang tidak aku suka darinya. Bahwa dia mencintai perempuan lain. Dan perempuan itu bukan aku..


0 komentar:

Posting Komentar