Senin, 28 September 2015

Sebatas Kagum



Kagum…. Mengagumi.. jika memahami istilah kagum, aku termasuk orang yang mudah mengagumi. Apapun yang aku sukai, termasuk mengagumi seseorang. Jika dikaji lebih jauh, apa sih enaknya mengagumi ??? 

 Toh nantinya akan sakit hati juga, apabila seseorang yang kita kagumi ternyata mengagumi dan menunggu orang lain. Kan nyesek dan galau jadinya. Ada juga kutipan dari temenku “Mengagumi itu tak harus memiliki, jadi tidak lebih dari perasaan kagum dan tak pernah membuat kita terobsesi untuk memiliki orang yang kita kagumi”. Benar juga sih, tapi menurutku mengagumi itu lama-kelamaan akan muncul rasa menyayangi dan berambisi unutk memiliki. Mengagumi seseorang itu lebih menantang, yang terkadang bisa membuat aku tersenyum atau juga membuatku harus menahan air mata yang hampir jebol membasahi pipi.
Tapi mengagumi seseorang itu, juga bisa dapat menggairahkan semangat baru bagi kita. Ketika aku dapat tersenyum tipis karena mengagumimu. Terkadang aku berhenti sejenak ketika berjalan untuk sekedar melihat dan tersenyum malu saat sosok  lelaki yang kukagumi berada dekat denganku, hanya sekedar menatapnya atau bahkan ngobrol dengannya. Aku kadang menjadi over pd ketika dia menyapaku dan memulai obrolan singkat atau konyol denganku terlebih dahulu.
“ Eh Lin, lihat tuh moodbostermu sedang berjalan berdampingan sama kita lo, lumayan kan bisa buat kamu cuci mata, hahahaha” celetuk temanku yang sedang berjalan denganku. Dia sedang berjalan seperti biasa dengan ukiran senyum tipis di wajahnya serta cengiran konyolnya. “Haaiii”, dia selalu sukses membuatku tersenyum cengar cengir sendiri layaknya orang gila dan membuat hatiku meleleh pada perasaan kagum .
Tetapi dibalik itu semua, mengagumi seseorang juga akan membuatku leleh dalam sedikit goresan luka. Disaat aku tahu dia sedang bersama teman perempuanya, entah sahabat ataupun pacarnya. Ketika mengagumi bisa membuat adrenalin meningkat, aku bisa apa ? Aku cemburu dengan mereka yang selalu disampingmu dan melukis tawa indah bersamamu, aku iri dengan mereka. Namun aku tak bisa apa-apa.
Ketika mengagumi membuat kita bahagia, saat pipiku memerah dan salting layaknya orang jatuh cinta. Dimana dia mengajakku berbicara dan menatap mataku, pipiku seakan menunjukkan semburat rona merah yang membuat Ica meledekku, “Pipimu merah Lin, kondisikan keadaan pipi yang kurang sopan dong, ntar kalau ada yang lihat gimana gimana ?”. “Masak sih Caaa?”jawabku sambilcengar-cengir sedikit salting. Saat dia mulai curiga dari gelagatku, dia hanya tersenyum. Lalu aku ? Aku hanya menunduk canggung, malu dan merasa tak karu-karuan.
“Ayo Lin, deketin orangnya”, kata Ica yang mengetahui kekagumanku.
 “Gak ah, aku malu, aku takut terlihat bodoh kalau dekat-dekat dengannya”, jawabku singkat.  
“Enggak kok, ini kesempatanmu,mumpung dia lagi sendiri. Ini peluangmu, jangan kau biarkan dia hanya sebatas kau kagumi tanpa kau miliki”, sahut Ica.
“Oh kalian berdua disini, masuk aja sampai hujan reda, kita berteduh bersama disini saja lo”, sapa dia saat berteduh denganku dan Ica di tempat yang sama.
“Kamu gak bawa payung Lin ? sini saja aku bisa meminjamimu payung kok”, tambahnya lagi.
“Enggak mas. Iya makasih”, sahutku denganragu dan malu. Walaupun sebenarnya aku menginginkan hujan tak reda, hanya saja aku ingin lebih lama dengannya. Bahkan aku bahagia meski hanya bebeapa menit berteduh dengannya sembari memandang hujan bersama. Ingin sekali rasa itu terulang setiap saat setiap waktu. Karena aku benar-benar mengagumi.

0 komentar:

Posting Komentar