Aku
sering lupa, bahkan pernah lupa. Untungnya ada kamu yang mengingatkan bahwa
kita pernah adu jempol bersama. Setidaknya kita dulu pernah sedekat nadi.
Dimana cinta yang datang kareunna terbiasa ketika awalnya hanya sebatas teman.
Entah teman sekelas, teman nongkrong, teman hangout, teman curhat atau bahkan
teman hidup. Ahaaaiii,,, ternyata teman menapaki pcak yang lebih klimaks,
karena dari komunikasi intensif yang tejadi setiap hari setiap waktu membuatku
tak sadar bahwa pertemanan ini mengarah pada perasaan nyaman. Dan rasa nyaman
itu muncul dari obrolan ngaco yang semakkin larut semakin seru. Nah
lama-kelamaan dan terbiasa berduaan yang namanya persaan udah gak bisa
dipungkiri lagi.
Rasa itu sebelumnya belum kusimpulkan sebagai cinta maupun sayang. Sebab, kita tak sadar bahwa cinta dapat menembus ruang ruang dan waktu yang sulit dijangkau dan memiliki ritme cerita yang khas. Keinginan untuk terus mengisi kekosongan ruang dan waktu senggang memiliki getaran lain yang lebih dari seorang teman.
Rasa itu sebelumnya belum kusimpulkan sebagai cinta maupun sayang. Sebab, kita tak sadar bahwa cinta dapat menembus ruang ruang dan waktu yang sulit dijangkau dan memiliki ritme cerita yang khas. Keinginan untuk terus mengisi kekosongan ruang dan waktu senggang memiliki getaran lain yang lebih dari seorang teman.
Tok
Tok!!!
Sebuah pesan BBM muncul disaat aku menguap lebar. Kulirik dosen yang
tengah sibuk memberi uraian materi kuliah, langsung saja aku mengambil
handphone yang berada di dalam tasku. Aku tersenyum tipis membacanya. Reynand
seorang cowok berambut ikal yang biasa kupanggil ‘Cungkring’ dan berbadan
tinggi ramping minimalis yang sering kali chat ngaco dan konyol denganku.
Bahkan hampir setiap kali kita chatting, aku cengar cengir sendiri dibuatnya.
Aku selau berusah menahan tawa geliku sendiri, dia selalu saja seperti itu,
penyakit konyolnya memang nggak ketulungan. Tapi itulah yang unik darinya.
Yaaaahh, akhirnya Reynand yang berhasil mengusir rasa kantukku dikelas. Bukan
Cuma hari ini, tap setiap hari, ada saja kekonyolan yang diciptakan untuk
membuatku tertawa.
Hari-hariku
penuh dengan canda tawadengannya. Hingga aku lupa bahwa aku single dan sadar
bahwa aku jomblo, hahaha. Tapi realitasnya aku lebih bahagia tiap kali chatting
dan tertawa lepas saaat bersamanya. Ikatan pertemanan kita sangatlah erat.
Posttur tubuh tinggi dan ramping minimalis dengan rambut ikal, hidung sedikit
mancung serta sikapnya konyol dan unik yang berbeda dengan cowok biasanya,
semakin membuatku nyaman beerrteman dengannya. Entah kenapa aku merasa senang
saat berbalas chat dengannya. Gaya berbalas pesan yang unik dan konyol ini an
sedikit ada roman-roman romantis, hingga buatku larut dalam perasaan nyaman.
Tapi
2 hari ini, kita tak saling berkomunikasi dan tak memberi kabar satu sama lain.
Entah apa yang membuat kita miskomunikasi 2 hari belakangan ini. Tok Tok !!!
Aku buru-buru menyambar handphone di atas meja makan di tengah kegiatan gosok
gigi yang belum kelar. Berharapku sih itu pesan BBM dari Reynand. Sialan.
Ternyata dari temenku, Dina yang ingin numpang mandi karena air dikosnya mati.
Akupun membalas dengan ekspresi datar yang sedikit kecewa “Dateng aja din, aku
dirumah kok”. Setelah itu langsung kulempar handphoneku dan kembali ke kamar
mandi melanjutkan kegiatan gosok gigiku yang tertunda.
Gara-gara
Reynand setiap ada bunyi notifikasi dari handphoneku, aku selalu deg-degan
dibuatnya dan selalu berfikir kalau pesan itu dari Reynand. Dia memang
tergolong cuek, tapi ketika chatting dengannya keramahan, kesupelannya dan
kekonyolannya sangat terlihat jelas. Dia isa jadi temen ngobrol, jalan dan
teman curhat yang asik. Dia juga memberi semangat padaku saat aku mulai layu.
Makanya aku selalu dibuat penasaran oleh sikapnya. Dan terlebih lagi, terkadang
dibuat kesepian jika tidak chatting dengannya. Hingga, aku pernah lupa bahwa
kita hanya teman dekat ataupun sahabat, bukan pasangan mesra. Sepertinya
perasaanku mulai muncul tanpa diminta. Tapi,,, Ahh. TIDAK!!! Kita hanyalah
teman biasa yang saling memberi semangat dan berbagi cerita hidup ataupun
saling membantu menyelesaikan masalah. Kita memang jauh lebih dekat dan
nampaknya aku mulai menaruh rasa pada Reynand dan gak tau juga apakah dia juga
menaruh rasa padaku. Tapi aku gakmau bikin ribet perasaanku sendiri dan gak mau
juga menaruh banyak harap sama orang, takutnya sih kalau terjebak dalam “FRIENDZONE”
yaitu suatu keadaan dimana dekat dengan Reynand yang kemudian menaruh harapan
dan merasa berharga tapi disisi lain Reynand hanya menganggap pertemanan. Kan
nyakitin.
Saat
sedang melamun. Tib-tiba, Tok Tok !!! Bunyi notifikasi handphoneku, langsung saja
kusambar dan segera kkubuka. Ternyata BBM dari Reynand.
“
Haii, Ol. Lagi gak sibuk kan ? Ikut aku yuk ?”
Satu-satunya
manusia yang memanggilku ’Ol’. Aku spontan melonjak kegirangan. Aku membalasnya
dengan jari bergetar hebat.
“
Haii Cungkring. Enggak kok. Kemana Rey ?”
Reynand
membalasnya dengan cepat, “ Wah, lampu hijau ni. Nonton pertandingan futsal
yuk, gimana ? Bentar lagi tak jemput Ol”.
“Oke.
Ayok. Lagian juga jenuh dirumah”. Balasku tanpa sedikit menolak.
Akupun
bergegas mengganti bajuku. Tak lama kemudian kita berangkat. Aku duduk
bersampingan di lapangan futsal. Aku melirik Reynand yang fokus nonton futsal,
sedangkan aku sibuk memperhatikan Reynand. “Goooolllll..!!!!” Reynand bersorak
heboh, dan aku sedikit kaget. Canda tawa konyolpun mulai terjadi. Aku tertawa
ngakak bersamanya. “Ciiyeee,, yng tadinya kaget ngelihat aku teriak”, celetuk
Reynand sambil memberikan minuman soda
kaleng kepadaku. “Eh, Rey kok tumben bener ngajakin nonton futsal ? Biasanya
kamu kan sukanya ngajak ke cafetaria ?”, tanyaku iseng. “Oh ituu,,, aku sih
cuman iseng aja. Ini kebetulan yang tanding teman-temanku. Jadi, harus nonton
dan harus ngajak kamu Ol”. “Cuma itu Rey ? Cuma iseng doang, kenapa juga harus
aku Rey ?” tanyaku sedikit pd. “Iya Ol, cuman iseng aja kok. Lo, kan kamu
temenku Ol, sekaligus sahabatku, jadi aku harus ngajak kamu. Kali-kali nonton
futsal sama sahabat deket Ol”, jawab Reynad menjelaskan. Aku tercengang dan
menghela napas pendek. Aku terdiam dan aku benar-benar terjebak “FRIENDZONE”.
Sedikit pahit memang. Tapi apalah kita kan hanya teman ataupun sahabat, bukan
pasangan mesra. Meskipun aku sangat penasaran yang sebenarnya. Tapi pada
akhirnya, kufikir rasa penasaran itu lebih baik kucampakkan saja. Setidaknya
kita masih menjadi sahabat dan sering tetap bersama. Dan kita memang
ditakdirkan untuk menjadi sahabat, bukan pasangan mesra.


0 komentar:
Posting Komentar