Masa SMA adalah masa terindah dan menyenangkan. Semua orang menuturkan hal yang sama, baik yang sudah melewatinya maupun yang belum merasakannya. Hal ini cukup menjadi perbandingan yang luar biasa bagi kehidupan Marlin. Ia menolak adanya cerita indah dan menyenangkan yang akan ia rasakan di masa SMA-nya sekarang. Ini adalah awal baginya untuk belajar.
“Ya Tuhan, apa rencanaMu dalam kehidupanku? Aku tak mengenal sekolah ini. Kenapa Engkau membiarkanku melewati semua ini?”
Pagi itu sangat cerah, suasana Masa Orientasi Siswa sangat terasa di seluruh sekolah dalam tahun ajaran baru 2012. Para calon siswa baru yang mengenakan atribut warna-warni terlihat sangat lucu dan menarik. Wajah yang menunjukkan rasa malu sangat terlihat di kedua mata mereka, namun tak tertutupi rasa bangga mereka setelah melewati masa SMP dan sekarang mereka berdiri untuk masuk di masa SMA. Teman baru, suasana baru, keceriaan baru, aktivitas baru, dan tentunya seragam dan sepatu baru akan mereka kenakan di masa SMA ini. Namun tidak bagi Marlin yang sangat berat hati pada saat itu. Ia tidak mengenal sekolahnya, ia tidak suka melihat keadaannya sekarang. Dengan kekecewaan yang sangat besar ia harus berusaha menjalani MOS dengan senyuman.
“Maria Marlin.”
Terdengar namanya saat di panggil oleh Kakak senior yang mengawasi ruangan MOS pada saat itu. Marlin diminta untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan alasannya masuk ke sekolah ini. Dengan sangat berpikir keras, Marlin merangkai kata dalam benaknya agar kalimat yang ia ucapkan tidak terdengar memalukan dan menyedihkan. Ia memang bukanlah anak pemalu, namun ia merasa bahwa jalan ceritanya menuju sekolah inilah yang memalukan.
“Nama saya Maria Marlin, biasa dipanggil Marlin, dan saya dari SMP Swasta Merchabuana. Alasan saya masuk sekolah ini adalah karena jalan Tuhan”
Kalimat terakhir yang diucapkan Marlin membuat salah seorang Kakak seniornya terkejut. Ia yang mengetahui sepak terjang dan akreditasi SMP Merchabuana merasa sangat heran dan kagum.
“Wees, anak Merchabuana omongannya. Karena Jalan Tuhan, berat banget bahasanya.”
Hanya sebagian orang yang berusaha mengerti akan omongan Kakak senior itu, dan berpura-pura tertawa akannya. Marlin tahu kondisinya pada saat ini, ia sangat yakin bahwa siswa satu kelas yang sedang menjalani MOS bersamanya tidak mengetahui sekolah SMP Merchabuana. Sekolah Merchabuana adalah sekolah yang besar dan cukup terkemuka di kotanya, namun posisi Marlin sekarang bukanlah di daerah kota, melainkan kabupaten. Tidak heran bahwa teman-teman kelasnya yang mayoritas berasal dari sekolah kabupaten setempat tidak mengetahui asal usul sekolah Merchabuana. Marlin pun menganggap bahwa respon Kakak senior tadi hanyalah omongan belaka untuk mencairkan suasana kelas pada saat itu.
“Tuhan, inikah ruang kelasku di masa SMA? Kotor, berdebu, dan sangat tidak menarik. Bantu aku Tuhan, bantu aku melewati semua ini.”
Seusai MOS hari pertama, Marlin pulang dengan rasa tidak nyaman yang selalu meliputi dirinya. Saat Marlin sampai di rumah, Mamanya bertanya mengenai harinya di masa pertama MOS SMA.
“Sekolahnya beda banget sama yang dulu. Ruang kelasnya kotor dan berdebu. Aku nggak kuat, ma.”
“Jangan ngomong kayak gitu, jalani aja dulu. Tuhan pasti punya rencana indah dibalik semuanya. Memang sudah menjadi jalan Tuhan kamu ditaruh di sekolah itu. Mungkin saja di sekolah yang lain kamu akan tidak selamat. Lagi pula emas walaupun di taruh di lumpur, tetap saja emas, tidak akan berubah. Percaya saja pada kehendak Tuhan.”
“Bantu Marlin terus ya, ma. Doain Marlin biar bisa berprestasi di sekolah sekarang. Marlin janji akan membuat Mama dan Bapak bangga, walaupun dengan sekolah Marlin yang sekarang.”
Saat hari kedua dan ketiga Masa Orientasi Siswa berlangsung, Marlin tidak menunjukkan muka bersahabat pada lingkungan dan teman-teman sekitarnya. Ia menolak bergaul, dan tertawa saat Kakak seniornya membuat candaan. Baginya tidak ada yang menarik dan lucu di sekolah barunya ini. Hanya ada beban kesedihan dan kekecewaan yang selalu terlintas di hati dan pikirannya, terlebih saat melihat lingkungan sekitarnya saat ini. Marlin selalu berusaha untuk melupakan semua kekecewaan karena tidak diterima di 3 sekolah Negeri yang orangtuanya inginkan.
Ia merasa sangat bersalah dan tidak enak hati kepada Mamanya yang selalu menemaninya dalam mencari sekolah SMA terbaik. Entah apa yang sedang direncanakan Tuhan terhadap Marlin, segala kenyataan ini membuat diri Marlin semakin tertekan. Ia tidak percaya akan nilai-nilainya yang sangat bagus sewaktu SMP. Ia menganggap bahwa nilai itu adalah palsu, karena tidak mungkin bila nilai itu benar, ia sampai tidak diterima di 3 sekolah sekaligus.
Lima bulan pertama menjajaki masa SMA, Marlin tidaklah merasakan ketenangan jiwa. Ia sangat putus asa menjalani hari-harinya di sekolah. Ia melihat bahwa semuanya berbeda, tidak menyenangkan seperti masa SMP-nya terdahulu. Teman-teman Marlin berasal dari suku dan agama berbeda, banyak karakter dan kepribadian yang baru pertama ia lihat. Marlin merasa sangat canggung dan aneh melihat lingkungan sekitarnya. Keberagaman yang tidak pernah ia rasakan di masa SMP membuatnya bingung saat harus berinteraksi dengan lingkungannya saat ini.
Suatu hari Marlin sadar bahwa hidupnya tidak boleh terlarut akan kekecewaan dan kesedihan. Nasihat yang selalu disampaikan dari Mamanya setiap hari, membuat Marlin sadar akan tugasnya. “Percaya akan kehendak Tuhan” adalah kalimat yang selalu didengar Marlin saat Mamanya sedang bicara.
Ia bertekad dengan keras agar masa SMA ini tidak boleh terlewat dengan sia-sia tanpa ada hal yang berarti. Pada kelas X ini Marlin memiliki keinginan untuk mengikuti berbagai organisasi di sekolahnya, tujuan utamanya adalah untuk membunuh waktu. Ia percaya bahwa banyak kegiatan akan membuat waktu cepat berlalu, dan ia tidak perlu mengingat lagi masa lalunya yang mengecewakan.
Organisasi yang pertama ia coba adalah OSIS. Mendata diri menjadi salah satu pengurus OSIS, mengantarkan Marlin terpilih menjadi salah seorang kandidat ketua OSIS. Marlin tidak percaya akan hal itu. Sewaktu SMP, Marlin tidaklah suka berorganisasi di sekolah, yang ia lakukan hanyalah belajar dan bermain. Ia pun tidak suka akan keputusan bahwa ia menjadi salah satu kandidat ketua OSIS, yang itu artinya Marlin akan mempunyai tanggung jawab besar terhadap sekolahnya saat ini. Berbagai kampanye OSIS mulai ramai di sekolahnya, selembaran akan biodata diri calon ketua OSIS mulai tersebar di semua kelas. Marlin mengikuti prosedur yang berlaku, dan sekarang biodata dirinya dilihat oleh semua orang. Pada saat upacara sekolah, kandidat ketua OSIS harus memberikan kampanye sepatah dua kata mengenai visi dan misi yang akan ia lakukan apabila terpilih menjadi ketua OSIS.
Marlin sangat bingung apa yang harus ia sampaikan, ia browsing di internet kalimat kampanye yang menarik. Sejujurnya Marlin tidaklah ingin menjadi ketua OSIS, ia berniat apabila perolehan suaranya tertinggi, ia kan mengundurkan diri. Hal ini membuat Marlin tidak sepenuh hati dalam kampanye. Gaya berpakaian dan penampilannya yang tidak pernah rapi tetap dipertahankan Marlin dalam masa kampanye, termasuk saat harus berbicara di depan seluruh warga sekolah ketika upacara. Marlin mempertahankan gayanya yang terlihat sangat tidak pantas apabila menjadi ketua OSIS.
Saat perhitungan suara, Marlin mendapatkan perolehan suara ketiga dari 5 kandidat yang ada. Ia sangat lega mengetahui hal itu, itu artinya Marlin tidak perlu repot mengemban tanggung jawab terhadap sekolah. Selama masa kampanye, Marlin banyak berinteraksi dengan semua orang. Termasuk dengan semua Kakak kelasnya. Ia banyak dikenal oleh Kakak kelas, mulai dari kelas XI dan XII. Nama Marlin bukan menjadi nama yang asing lagi bagi sekolahnya saat ini. Semua orang mengenalnya dan mengetahui dia.
Banyak Kakak kelas yang mendukung Marlin menjadi ketua OSIS. Kepandaian Marlin saat berbicara membuat banyak orang yakin akan potensinya. Namun tidak sedikit pula yang menolaknya. Gaya berpakian Marlin yang tidak rapi dan tidak patut dicontoh, membuat banyak Kakak kelas yang enggan memilihnya. Marlin baru mengetahui hal ini setelah seminggu perhitungan suara. Prestasi Marlin terus ditunjukkan seiring berjalannya waktu. Ia meraih peringkat juara umum pada awal semester kelas X. Keberhasilannya ini membuat banyak pihak kagum akan dirinya. Pengumuman Marlin mendapat juara umum didengar dan disaksikan oleh seluruh warga sekolah saat upcara bendera. Betapa bangganya dia saat semua orang bertepuk tangan ketika sertifikat penghargaan diberikan ke tangannya. Sejak saat itu, nama Marlin semakin terkenal di sekolah SMA Swasta Marvel.
Prestasi Marlin membuat kedua orangtuanya bangga. Senyum kebahagiaan yang mereka tunjukkan saat mengetahui Marlin mendapat juara umum sangat tampak jelas terlihat. Marlin bahagia, di usianya yang ke-15 tahun ini, Marlin mampu menghadirkan harapan baru bagi kedua orangtuanya. Walaupun ia sadar kegagalan yang dialaminya beberapa bulan lalu pasti sangat membuat kekecewaan yang dalam bagi orangtuanya.
Proses pendewasaan diri Marlin semakin nyata dalam kehidupannya sehari-hari. Mulai memiliki perasaan akan lawan jenis membuat Marlin berani berkenalan dengan Kakak kelas. Dia bukan sosok yang sering Marlin lihat selama bersekolah di SMA Marvel, dia adalah anak baru pindahan dari luar kota yang sekarang duduk di kelas XI IPA. Paras wajah yang tampan sangat terlihat dalam sosok Mario. Saat Marlin mulai menyukai Mario, ia mulai mencari info tentang dirinya. Karakter Mario yang baik, agak sedikit pendiam, dan pintar, membuat Marlin tambah jatuh hati kepadanya. Info yang ia dapatkan dari teman sekelas Mario di XI IPA 2 sangat tidak diragukan, dan betapa terkejutnya Marlin saat mengetahui bahwa pria yang ia sukai adalah Kakak kelasnya sewaktu SMP.
“Masa sih? Kok aku nggak pernah Lihat dia ya?”
Saat banyak pihak dan teman-teman Marlin yang mengetahui bahwa ia suka dengan Mario, semakin banyak pula info yang ia dapatkan mengenai Mario. Dan sangat bahagianya dia, ketika teman sekelasnya adalah sahabat kecil Mario.
Dalam waktu 2 bulan, Marlin dan Mario jadian dalam ikatan pacaran. Pacaran anak SMA yang masuk dalam kategori cinta monyet. Banyak yang Marlin dan Mario lakukan dalam masa pacaran yang baru pertama ini ia rasakan, kedua orangtua mereka pun saling mengetahui dan mengizinkan keduanya.
Marlin merasa bahwa masa SMA yang awalnya ia duga akan tidak menyenangkan, ternyata berbanding terbalik saat semua senyuman dan kebahagiaan sedikit demi sedikit ia rasaakan dalam perjalanan hidupnya. Dukungan dari semua pihak, keinginan Marlin untuk bangkit, serta doa kedua orangtuanya akan kebahagian Marlin, membuat Marlin mampu tersenyum tegar dalam masa SMA ini.


0 komentar:
Posting Komentar