Rabu, 16 September 2015

Pelangi Dibalik Hujan








HUJAN.  Apa yang ada dalam benakmu tentang hujan? Apakah hujan itu memberikan kebahagiaan? Kesedihan? Atau hujan adalah sesuatu yang dapat mewakili perasaan yang sulit untuk diungkapkan? Yah, mungkin sebagian besar menganggapnya sebagai perwakilan atas perasaan yang sulit diungkapkan. Apakah hujan itu menyenangkan? Yah, mungkin sebagian orang menganggapnya demikian. Tapi semuanya tentang hujan adalah satu kata yang sangat ku benci, dia tidak pernah memberikan kebahagiaan buatku bahkan setiap tetes hujan yang jatuh bagaikan panah dari langit yang menusuk-nusuk tubuhku.
Namaku adalah Tumini Nur Aisyah, biasa dipanggil dengan sebutan Mini.Hujan, dia merebut semua kebahagiaan yang ku miliki dan menjadikanku seperti ini. Dia tidak pernah mewakili perasaanku yang sulit untuk aku ungkapkan, mengapa ketika aku merasa senang hujan selalu saja datang menusukku seakan membenciku untuk merasakan kebahagiaan dalam kehidupanku. Hujan tidak pernah memberikanku kebahagiaan setetes pun saat dia turun, karena dia selalu membawaku ke masa lalu yang menyakitkan.

“Mini, cepat nanti kita terlambat.” Kak Sari berteriak dengan kerasnya dari luar rumah membuatku lari sekencang mungkin menuruni tangga.
“Iya, tunggu sebentar.” Aku memakai sepatuku dengan cepat sehingga bentuk ikatannya tidak karuan, sebelah kanan berbentuk pita dan sebelah kirinya berbentuk cacing kepanasan.
“Lama banget sih kamu. Bapak sama Ibu udah nunggu di mobil, yuk buruan!” Kak Sari memang bawel walaupun dia seperti itu tapi orangnya sangat disiplin.

Aku mengikutinya dari belakang dan naik ke mobil, sepanjang perjalanan aku hanya terdiam dan menatap keluar jendela. Awan menampakkan kemurungannya dan menunjukkan sebentar lagi dia akan menangis.
“Oh iya Mini, gimana hasil ujian kamu?” Tanya kak Sari mengalihkan perhatianku dari luar.
“Baik kok Kak, Kakak sendiri gimana?”
“Sempurna, semuanya A, nih lihat!” Jawabnya dengan penuh semangat sambil membuka map yang berisikan hasil nilainya, ku akui dia memang sangat cerdas walaupun sangat menyebalkan, terkadang.
“Semangat banget bawa hasil nilainya ke puncak. Kita kan mau liburan bukannya mau presentasikan nilai di sana.”
“Jyah, emang kenapa? Masalah?”
“Nggak.”
“Ya udah jangan protes.”

Aku hanya diam, dan pertengkaranku barusan membuat Bapak dan Ibu tertawa disertai dengan tangisan langit yang begitu derasnya membuat jalanan sangat sulit dilihat.
“Bapak sulit melihat jalan nih, hujannya deras sekali.” Ucap Bapak sambil melap kaca mobil di depannya.
“Kalau begitu kita berhenti aja Pak, nanti bahaya kalau kita jalan terus. Lagian kita sudah mau sampai di puncak. Malah kabutnya tebal sekali.” Papa hanya mengikuti saran Ibu, saat Bapak ingin berbelok tiba-tiba ada sebuah truk berkecepatan tinggi yang tidak bisa menghentikan mobilnya.

Hanya suara kalkson yang diiringi dengan benturan keras yang dapat ku ingat saat kejadian itu. Dan keluarga yang ku miliki pergi meninggalkanku selamanya dan semenjak saat itulah hujan selalu mengambil kebahagiaanku hingga sekarang. Kali ini hujan turun lagi, dengan derasnya seakan dia menertawaiku. Aku berteduh di bawah atap sebuah cafe samping kampus, aku merasa benci dengannya merasakan setetes air yang jatuh pun aku tidak mau.
“Tuhan, turunkan hujan yang lebih deras lagi!” Teriak seorang anak jalanan yang sedang bermain hujan di hadapanku.
Dia berlari kesana-kemari, berputar-putar dan sangat menikmati setiap tetes hujan yang membasahi tubuhnya. Hujan semakin deras dan dia semakin merasa senang. Tuhan sangat mudah mengabulkan doa anak itu. Membuatku berpikir, dan tertegun begitu lama menatap setiap gerak-gerik anak itu.
“Jika Tuhan dengan mudah mengabulkan keinginan anak itu, mengapa aku tidak?” pikirku.

Aku pun mengucapkan permohonanku dalam hati sambil menatap langit yang sangat ku benci karena dia telah merebut semuanya dariku.
“Tuhan, tunjukkan aku satu harapan agar aku bisa memaafkan hujan yang Kau turunkan.”

Tidak lama setelah ku ucapkan permohonanku, ada keajaiban datang membuka cakrawala berpikirku. Yah, itu dia pelangi.
“Wah, lihat ada pelangi, ada pelangi.” Teriak anak jalan itu sambil menunjuk ke arah pelangi itu.

Hujan mulai reda dan membuat pelangi itu semakin cerah terlihat. Dan Tuhan memberikan aku satu alasan. Karena tidak mungkin ada pelangi jika hujan tidak ada. Sehingga Tuhan telah mengajariku bahwa disetiap kepedihan yang telah diberikan padaku, akan ada sesuatu yang indah setelah larut dalam kepedihan.

0 komentar:

Posting Komentar