CINTA…??? Ah
rasanya aku ingin tidur, tak semudah itu orang menerjemahkan. Cinta memang dianggap hal yang paling rumit
dalam menjalin hubungan yang bisa normal. Namun, cinta memiliki tantangan yang
cukup extreme untuk melukis cerita yang indah. Cinta bukan aku, cinta bukan
kamu, cinta bukan apa atau siapa, tapi cinta adalah tentang semuanya. Cinta
itu,,,, ah sudahlah! Aku tak banyak mengerti tentang cinta, yang terpenting
cinta menjadi menjadi sekat tipis yang memisahkan tawa dan tangis.
Singkat
cerita, awalnya aku cuekin dia tapi lama-kelamaan aku terlarut dalam
skenarionya. Sebut saja dia Gilang, cowok umur 18 tahun dan masih sekolah di
jenjang SMK. Sedangkan aku, baru lulus tahun ini. Memang dia lebih tua setahun
denganku, tapi jangan salah soal kedewasaan dia lebih mampu berfikir secara
kritis dibanding denganku. Gilang tinggal tak jauh dari rumahku, tapi
sebelumnya aku tak pernah bertemu sesosok lelaki yang berhidung mancung,
berkumis tipis dengan postur tubuh tinggi yang ramping minimalis itu. Orangnya
baik, perhatian dan konyol, hingga terkadang aku larut menikmati kekonyolan
itu. Berhari-hari aku komunikasi dengannya hingga larut malam, bahkan subuh pun
pernah. Hingga kita memiliki kedekatan yang spesifik. Sampai pesan yang belum
sempat kubalas, dia pasti sms lagi memenuhi kotak inbokku. Jujur sih, aku sedikit
bahagia kalau hpku berisi pesan darinya, tapi bosen juga kalu disuruh olahraga
jari terus-terusan.
Konon, kata
orang terdahulu “Tresno jalaran soko kulino” yang maksudnya perasaan akan muncul
dengan seiring berjalannya waktu jika kita selalu bersama dan terbiasa bersama.
Pernyataan yang benar juga, memang rasa nyaman datang setelah kita sering
bersama dan berkomunikasai layaknya pasangan muda. Padahal kita hanya berteman
biasa dan hanya saja saling mengasih kabar satu sama lain. Seperti halnya aku
dan Gilang yang kini menjadi teman dekat dan belakangan ini sering bersama.
Dulu Gilang pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku sebelum kita sedekat nadi
ini. Hanya saja aku gak pernah peka kalau dia sebenarnya menyimpan perasaan
padaku. Dan tak pernah sedikitpun terbesit dalam benakku kalau sebenarnya Gilang
menyukaiku. Dan sejauh ini aku masih belum menaruh rasa kepada Gilang. Aku
hanya nyaman berteman dengannya dan menganggap ungkapan Gilang hanya bercanda.
Hingga akhirnya dia mulai mengahapus rasa itu dan beranggapan bahwa kita memang
ditakdirkan menjadi sepasang teman bukan pasangan mesra.
Semakin lama
aku semakin dekat dengan Gilang. Hidupku
terasa membawa keceriaan, selalu tersenyum seperti tak ada masalah. Karena kita
mencoba saling terbuka dan berbagi kisah kehidupan masing-masing. So, saat kita
mempunyai masalah selalu kita coba diselesaikan berdua dan saling memberi
semangat antara kita. Aku sangat bahagia saat dia berada disisiku. Tapi waktu
mengalihkan kita. Keadaan berubah menjadi kelabu seketika. Kita lostcontact
untuk beberapa minggu kedepan. Aku sedikit layu dan kurang bersemangat
belakangan ini karena kurasa sebagian dari semangatku ada yang hilang.
Sejujurnya aku rindu canda tawa kita, aku rindu kekonyolan kita dan aku rindu
semua tentang kita yang dulu-dulu. Sekarang suasananya udah beda yang sesering
dulu bersama. Hal paling kutakutkan adalah Gilang pergi ataupun berubah tanpa
alasan disaat aku sudah nyaman dengannya. Kali ini aku berusaha membangunkan
semangatku lagi sendiri dan berjuang sendiri itu lebih menyakitkan. Kuukir
senyum tipis lagi dan aku yakin yang namanya sahabat itu gak akan pernah
ninggalin sahabatnya tanpa alasan yang tepat. Karena berjuang itu gak
sebercanda ini kawan !!!
Hingga saat
aku mulai berhasil mengukir senyuman lagi dan membangkitkan semangat lagi
walaupun tak lengkap seperti dulu saat kita masih bersama. Akirnya Gilang
kembali lagi menghubungiku dengan suatu alasan yang logis. Kita mulai
bersahabat lagi, tapi kini aku sedikit canggung
dan belum care seperti dulu. Dengan seiring berjalannya waktu,
persahabatan kita pun menjadi lebih dekat. Bahkan aku dan Gilang mempunyai nama
panggilan kesayangan masing-masing layaknya pasangan mesra. Sampai orang lain
dan teman-temanku menganggap kita pacaran, padahal kita cuma sahabat bukan
pasangan mesra. Kita sih lebih nyaman dengan status seperti ini. Awalnya sih
biasa-biasa aja tapi lama-kelamaan jadi baper. Karena sebuah kenyamanan dapat
membuat orang lupa kalau kita cuma sebatas sahabat. Dan sekarang aku tak bisa
memikirkannya, entahlah aku bingung menerjemahkan isi hati ini. Rasanya aku
ingin mengatakan bahwa aku mulai menaruh rasa pada Gilang. Tapi sudahlah, aku
mulai melupakan perasaan misterius ini. Yang terpenting kita selalu bersama dan
tak sedetikpun lostcontact lagi.
Entah sampai
kapan aku harus memendam perasaan ini. Perasaan yang membuatku tak mau berpisah
dengan Gilang. Tapi aku bisa apa ? kita kan gak ada status yang lebih dari
persahabatan. Tetapi aku selalu berusaha mengubur dalam-dalam perasaan ini. Dia
yang selalu berhasil membuat hatiku mencair di tengah kebekuan. Terkadang aku
merasa bingung, hubungan persahabatan kita bisa dibilang sudah bukan persahabatan
lagi melainkan seperti hubungan tanpa status. Dan entahlah sampai kapan
hubungan ini berjalan. Aahhh,,, sudahlah aku gak mau ambil pusing dengan
pernyataan horror ini yang mungkin nantinya dapat menggoreskan luka. Yang terpenting
sampai hari ini detik ini kita masih bersama dan tentunya bahagia. Hingga suatu
malam Gilang mengajakku keluar sebentar sekedar melepas penat. Kita biasa nongki
di cafe tempat-tempat nongkrong para jiwa muda. Saat sedang asyiknya nongki,
kuamati Gilang yang berbeda dari kemarin-kemarin. Kali ini dia sedikit sibuk
dengan poselnya dan agak sedikit cuek dengan keadaan. Aku merasa bosan dengan
sikapnya hari ini, aku penasaran dengan sikapnya hari ini, sepertinya ada yang
disembunyikan.
Saat dia
keluar sebentar, tak sengaja kubuka ponsel Gilang dan disitu terdapat 1 pesan
baru dari seorang cewek yang isinya “ Lagi dimana sayang ? Cepet pulang yah”. Aku
tercengang dan sedikit tak percaya ternyata Gilang memiliki pacar baru dan tak mau
bercerita denganku. Mungkin dia malu atau apalah aku tak paham. Aaaaaarrrrrgggghhh,,,,,
rasanya. Kecewa iya. Aku hanya diam dan seolah-olah tak tahu apa-apa dan
berpura –pura strong.
“Kamu kenapa
?”, tanya Gilang yang memecahkan kesunyian.
“Aku gakpapa
kok”, jawabku singkat dan tak seperti biasa.
“Beneran
gakpapa?”, tambah Gilang meyakinkanku.
“Iya aku
gakpapa kok”, jawabku sambil menahan kecewa.
“Kamu kok
gitu sih Lin, kamu kenapa ?”, timpal Gilang lagi yang tak puas dengan
jawabanku.
“Aku gakpapa
kok kring, beneran deh gakpapa”, jawabku pura-pura senyum dan seolah-olah tak
tahu apa-apa.
“Bilang aja
gakpapa terus Lin, sampai aku berubah jadi malaikat Izroil dan mencabut
nyawamu!”, bentak Gilang dengan ekspresi konyolnya, tetapi aku tetap saja diam
dengan ekspresi datar. Tak lama kemudian akhirnya kita pulang dan Gilang
mengantarkanku pulang sampai depan rumah.
Langsung saja
aku masuk kamar dan merebahkan tubuhku diatas kasur sambil menahan banjir dari pelupuk mata yang
mengalir membsahi pipi. Tak tahu mengapa aku merasa kecewa seperti ini. Rasanya
aku ingin kembali menjadi anak kecil lagi, sebab
jika jatuh hanya lututku yang terluka bukan hatiku seperti ini. Lucu ya,
keadaan berubah secepat itu. Mungkin kesalahanku menunggu seseorang yang sedang
menunggu orang lain. Dan bukan benci yang membuat kita sekarang sedikit jaga
jarak seperti ini, tapi kecewa. Semacam tidak memiliki namun takut kehilangan
dan semacam tidak punya status namun merasakan kecemburuan, itulah hubungan
tanpa status. Kadang gak ngerti dengan hati ini, udah dibikin baper, terus menggoreskan luka gitu
aja. Tapi tenang aja kok, Allah menulis skenario itu selalu indah kok, jadi
kalau belum indah berarti belum selesai…

1 komentar:
ceritanya ngena banget duhh, makasih loh ya postingannya :)
Posting Komentar